Lyrics: Marselinus Kia Buto/Mariano Angga Music: Marselinus Kia Buto Outsiderbeke : Hari yang indah, saat mentari senja tenggelam di dalam ruang sempit khayalku ikut menyelam menyulam, untainan indah kata pujian Kepada sang khalik tempat ku tumpuhkan harapan Berthan dari derasnya badai cobaan saat hantaman pelik siksa hasrat dan godaan mengajak ku menari di hamparan padang durjana semakin dalam ku terhanyut akhirnya jatuh tak berdaya mungkinkah ini takdir, atau hanya batu sandungan raga terlalu lemah tuk melangkah pada pijakan cibiran sekitar buatku menjauh dari jalanNya lambat tersadar ku telah melukai hatiNya serasa tak cukup jika hanya kata maaf yg terucap banding kebesaran dan hidmat yg slalu ku kecap maka ijinkan diriku tertunduk dan Berpasrah ucapkan dalam hati trimaksih Tuhan
Kya Butto : kocar kacir kehidupan nafsu butakan pandangan lama terbuai bergonta-ganti pelukan mulutku penuh hujat tangan ku haus pukulan lupa akan berkat keluhan jadi sebuah andalan tergila-gila aku menggila pada apabila sukses dituai hanya bila lutut tekuk bersilah takut akan keringat pengorbanan yang sia-sia tumpuan pun termanjakan dengan memilah-milah gagal merangkul disetiap beban yang kupikul hanya senyum simpul tutupi batin yang terpukul namun terbiasa jatuh enteng ku untuk menyundul walaupun lebat semangat ku kini semakin gundul karna kadang meningkat kadang menurun kadang badai berkecamuk namun ada hembusan pelan kesabaran adalah obat dalam kehidupan entah manis atau pahit ku tetap Puji Tuhan
Kya Butto : sekarang tiba saatnya untuk tunduk dan menyembah bukan berpasrah namun hanya padanya ku percaya jika hidup adalah titipan maka untuk apa ku takut kembali mencoba menguras tenaga di balik angkuhnya tekanan tak perlu lagi kututupi pribadi demi dapatti lencana bencana bila kumenipu diri ketika lumpuh tak berdaya agar dipuja-puja
Outsiderbeke : Dan jika telah habis waktuku nikmati Dunia Inginku berada di Sampingmu rasakan surga murni jiwa terhempas dari rapuhnya raga terbang dan tinggalkan kebisingan dunia fana Sadari besar dosa yang sering akuperbuat ijinkanku kembali ke Jalanmu dan bertobat Hati yg dingin dan kosong harapkan sentuhan menanti rengkuhan Tuhan beri kehangatan
Chorus : jatuh bukan berarti lumpuh siksa cobaan hanya padanya ku bertumpu patah sebelah kaki masih nyayikan pujian menggubah simponi dalam sorakan puji tuhan