Lyrics: Andi Muhammad Indra Music: Muhammad Ibnu Rafi/Doni Yudawan Joesran Kita prodak dua kaki yang berjalan dengan privilege Tingkah congkak bukan main gaya primitif Belagak limited itu mayoritas punya disiplin Saya bisikin yangg ngaku raja punya sifilis Prasangka jadi palu untuk Main hakim Tak sadar panggil maut duduk tarik nadi Semua terdakwa jika kamu ketahuan beda muka beda jumlah ketakutan beda tuhan Terangkan jalanku di tengah komoditas Lembar sejarah yang dicetak nafas kolonial Merawat pitam berlambang hitam putih di ragam kitab Kunci pembawa kisah yang pisahkan Suci dan nista bak duri dalam rias Sembunyikan nalar simpan penuhi dasar liang Mengundi siapa yang paling teratas Tak sudi melihat dunia dengan ragam warna Pandangan batas kotak televisi~Terprediksi Peragaan banal akal pendek isi Yang keluar di mulutnya bau pissing ~Apa guna dua mata jika pandang satu sisi Kita sama dari perut mama Datang tanpa nama tidak hapal nama warna Bawa tangis dan tawa hanya saat butuh makan Katakan apa yang buatmu unggul di ujung jalan Kau tak bisa memilih keluar janin jadi siapa Kotak yang buatmu fikir jika lain mati saja Bongkar ulang sekarang, tu pola usang berkarat ,berpijak kita setara Wasiat leluhur yang menghantui Bertingkat tersusun bak iklan pencerah kulit Lihat kini kau terkurung di~kelabui Ingat bars yang aku rapal bak tiket tuk keluar bui
Waktunya set the fire Bakar hangus semua racial pride Hantam balik prasangka Geser sudut pantat keluar dari ujung kandang
Hidup jalan hanya dalam bayang hitam putih Ikut cara pandang batas liat bingkai kulit Tolak ukuran yang kurung mu di bujur sangkar Coba buka sudut pandang bukan batas ujung mata Tanya suku mana jika beda buruk sangka Merasa unggul karena Cetakan yang bungkus raga Lantas busung dada kepalamu tumpul kawan?? Kita sama butuh nafas kepal adu untuk apa? Kisah tersusun yang indah kudu seragam Jika tidak menurut citramu buruk di mata Kita tersudut di paksa mundur belakang Lihat stigma tersulut nyalakan sumbu tak panjang Pitam terajut ~ yang pinjam kerja benalu Berita usang bertabuh~vulgar penuhi benakmu Bukan hal baru ini Tradisi yang bangkrut Paksa diisi tuk bertaruh Yang Berulang gaya dejavu Lupakan sinis bak menutup mata alan gunakan insting untuk menuntun langkah Lihat sekitar mu semua berujung sama Kita tidak tersisa jika dah terkubur tanah Coba berjalan berkawan di luar sekat Check pola beragam atau kan kena sekak Biasakan mendengar sebelum membuka mulut Bias akan terhempas bertemu kita di hulu Kau tak bisa memilih keluar janin jadi siapa Kotak yang buatmu fikir jika lain mati saja Bongkar ulang sekarang, tu pola usang berkarat, berpijak kita setara Semua korban saat sistem di setel Tak ada sumbang sejak fakta nya di putar disetem Suara aku sumbang tantang arus kaga di setir Kau yang mengaku paling unggul kubuat disappear