Lyrics: Widi Dwinanda Music: R.Indra Aryadi (Pencerita) This, is the beginning of a story The body is locked up In an unfelt, empty world
When in fact, it exists Beyond catastrophe Waiting...and waiting ------ (Raga) Dimana aku? Apakah aku sudah mati? Mati? Ya, ya! Aku pasti sudah mati Mati berdiri tak sadar diri Berakhir disini... sendiri ------ (Pencerita) Then a spell, a chant, from the ruler of the hollow universe ------ (Nyawa) "Hai, Raga... akulah nyawa" Selamat datang di dunia hampa milik kita"
(Raga) Siapa kamu? Dunia hampa apa yang milik kita?
(Nyawa) Tentunya dunia yang kini kau pijak Dimensi tempat kita berdialog
(Raga) Hei! kau suara tak bersosok! Bukan dunia, jika tak ada kehidupan Tanah yang kupijak ini mati Begitu kerontang kering Tak ada senyawa yang bernafas Bagiku, ini adalah alam baka Tempatku mati Dan kau mungkin saja setannya
(Nyawa) Hei Sudah kubilang aku ini adalah nyawa di dunia hampa! Pemberi kuasa penuh atas ruh pada setiap elemen semesta yang kini kau pijak
(Raga) Semesta yang ku pijak ini MATI Seperti rohku yang habis terhisap
(Nyawa) Hmmm.. Baiklaaah.. Jika kau ingin kehidupan maka pejamkanlah matamu Ikuti irama mantraku Dan kita ucapkan bersama "Laaaayastakh fan Rasyah, Triyastakh hum Lifalum syaraii"
(Nyawa dan Raga) "Laaaayastakh fan Rasyah, Triyastakh hum Lifalum syaraii" ------- (Pencerita) In an instant The universe voices in unison Silence becomes noise Celebrating life, exhaling spirit A lifeless soul, filled ------- (Nyawa) Bagaimana? Sudah mulai percaya? Bahwa memang inilah dunia kita Sekarang, sudah waktunya kita bertemu
(Raga) Untuk apa? Untuk dilempar ke seberang neraka? Dan jadilah aku penghuninya Begitukah???!!! Wahai suara??
(Nyawa) untuk menemukan kunci cahaya! pembuka sekat tak kasat mata Yang mengurungmu ke dunia hampa. Tak maukah kau kembali ke asalmu, Raga?
(Raga) Bisakah?
(Nyawa) Tentu!
(Raga) tapi, bukankah aku memang sudah mati?
(Nyawa) Sekarang kau ikuti bias cahaya dan kau akan sampai ke telaga jingga disitulah tempatku bersemayam bersama sang nyawa : "Nurani" Yang terkubur pasir perak di dasar telaga Raga... temukanlah kami Temukanlah kami Pembuka kunci, penerang gelap sesatmu.
(Raga) Aku pun melangkah Mengikuti kata suara mengikuti cahaya itu Menuju telaga jingga
Aku pun sampai di tepiannya, Sekejap waktu seakan berhenti Menusuk detak, jadi diam
Saat itulah kulihat riak telaga bergerak Membentuk aliran gelombang jingga keemasan
------ (Pencerita) From beneath the lake The Soul is present Embodied in silver silk A magnificent mirage, transcending through light It is: Conscience ------- (Nyawa) Hai.. Raga.. Akhirnya kita bertemu Tak perlu kau tercekat beku Karena kata tak lagi perlu ada bagi kita Karena aku akan membawamu menembus menembus dimensi dunia kaca Kita akan lihat putaran cerita tentang metamorfosis hidup seorang gadis bersama sisi lain yang ternyata mulai lelah diabaikan
— mantra —
(Raga) Ini ternyata adalah ceritaku Tentang Raga yang ditinggal jiwa Jiwa yang lelah pada hampa Jiwa yang lapar pada energi Jiwa yang berontak pada raga ... padaku ... yang tak pernah anggap ia ada Dan disinilah aku kini, di dunia nya
(Nyawa) Ssstt.. Raga, kau tak perlu menyesali apapun Tak perlu ada yang disesali Titik sadar itulah yang menjadi kunci pembuka dunia hampa kita Pendobrak jendela kaca yang akan menggiringmu menyatu kembali dengan jiwa Kembali utuh
----- (Pencerita) This is the end of a story When the body is thrown From an empty world, that once existed And is no more ----- (Raga) Kini aku telah kembali Namun, berbeda.. Aku telah siap memeluk jiwa Menjadikannya utuh, Mengisinya penuh Membentuk harmoni energi Menjadi SATU,
(Nyawa & Raga) AKU