LIMINAL

Lyrics: Wildan Fajar Khoerul Anam Music: Wildan Fajar Khoerul Anam/Laudza Dermaga Nareswara Terselip ingatan di saku secarik cinta di waktu yang tak dapat dirapal mulut, kubiarkan tak berfungsi layak dagu terdengar lagu yang berlabuh setengah tertidur di subuh
berharap kesadaran tak bangun, kesan yang muncul saat melamun murung bertahun berontak jika terkurung rambut rontok berserak, harapan hanya di lambung
Guruku bilang β€œrajinlah menabung” maka kutabung kemarahan enggan berkabung, di hadapan nisan bertuliskan tuhan tak ingin rampung, berjalan sendirian pikiran terus bertarung, bertahan di tepian
Doa yang dulu kulempar melambung, tak kunjung turun menyusupi pikiran kurun waktu yang lama terjebak cerita oase di gurun halimun pagi, dapur yang sibuk mengawali hari raga menunggu pelukan matahari kapanpun dapat mati persetan memento mori Fragmentasi hidup tergambar di kolase chemical parafrase, kewarasan montase, mendung menggelayut di udara maka kubuka jendela mengundang badai masuk
ku eja cela yang menusuk dan kubiarkan menumpuk yang ku rindu hanya sarapan di meja yang disiapkan ibu tanpa pikiran keliru, ambil jeda renggut waktu dan ruang yang mustahil
kembali pada ruangan bersekat, cara yang paling mutakhir berdiri di cermin telanjangi diri jurang yang tak mampu disebrangi jembatan manapun telah kulewati dengan sayap di belikat
lepas dari ikatan takdir telah kuhapus catatan awal dan akhir hitam di bibir tak pernah bisa ditafsir syair mistikal gaya hidup primordial halimun pagi, dapur yang sibuk mengawali hari raga menunggu pelukan matahari kapanpun dapat mati persetan memento mori